Air kolam yang keruh dan berbau busuk bukan sekadar masalah estetika. Pada budidaya ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus), kondisi ini menandakan ketidakseimbangan ekosistem perairan yang bisa menekan nafsu makan, memicu stres, hingga memicu kematian massal. Akar masalahnya hampir selalu sama: akumulasi bahan organik dari sisa pakan, feses, dan plankton yang mati lalu terurai menjadi amonia dan hidrogen sulfida (H₂S).

Penyebab Utama Air Keruh dan Berbau

Patin termasuk ikan rakus dengan rasio pakan tinggi. Setiap 1 kg pakan yang masuk, sekitar 30–40 persen tidak tercerna dan mengendap di dasar kolam. Endapan ini difermentasi bakteri anaerob, menghasilkan gas berbau seperti telur busuk. Kekeruhan biasanya diperparah ledakan plankton yang tidak stabil atau partikel lumpur halus yang tersuspensi karena aerasi terlalu kuat di kolam tanah.

  • Bahan organik menumpuk: sisa pakan dan feses yang tidak disifon.
  • Oksigen rendah di dasar: memicu bakteri anaerob menghasilkan H₂S dan amonia.
  • Plankton crash: bloom alga yang mati serentak membuat air keruh kehijauan lalu kecokelatan.
  • Padat tebar berlebih: di atas 50 ekor/m³ untuk kolam intensif tanpa sirkulasi memadai.

Langkah Konkret Penanganan

1. Perbaikan Kualitas Air Dasar

Kuras dan sifon dasar kolam setiap 3–5 hari sekali. Ganti air 20–30 persen volume total, jangan sekaligus, agar plankton tidak kaget. Jika air berbau menyengat, taburkan zeolit 10–20 g/m³ atau arang aktif untuk menyerap gas dan bau.

2. Aplikasi Probiotik dan Kapur

Dosiskan probiotik pengurai bahan organik (mengandung Bacillus sp.) 1–2 ml/m³ air setiap 7 hari. Bila pH turun di bawah 6,5, tebar kapur pertanian (dolomit) 10–20 g/m³ pada malam hari. Hindari menebar kapur bersamaan dengan probiotik karena bisa mematikan bakteri baik.

3. Manajemen Pakan

Kurangi pakan 30–50 persen selama 2–3 hari saat air berbau. Beri pakan pelet tenggelam secukupnya, cek sisa pakan 30 menit setelah pemberian. Pakan yang tidak habis adalah sumber bau utama.

4. Aerasi dan Sirkulasi

Tambah aerator atau kincir untuk menjaga oksigen minimal 4 mg/L. Namun, jangan menyalakan aerator terlalu dekat dasar kolam tanah karena akan mengangkat lumpur halus dan memperparah kekeruhan. Letakkan 30 cm dari dasar.

Pencegahan Jangka Panjang

  • Jaga padat tebar ideal: 20–30 ekor/m³ untuk kolam tanah, 50–75 ekor/m³ untuk kolam beton dengan sirkulasi.
  • Lakukan penyifonan dan penggantian air rutin setiap 3 hari.
  • Berikan pakan dengan rasio konversi (FCR) maksimal 1,5 agar sisa organik minimal.
  • Pasang sistem biofilter atau kolam pengendapan sebelum air dibuang ke lingkungan.

Air kolam yang jernih dan tidak berbau adalah cerminan manajemen pakan dan limbah yang disiplin. Kuncinya bukan sekadar mengganti air, tetapi memutus siklus akumulasi bahan organik lewat penyifonan rutin, probiotik, dan aerasi yang tepat. Dengan begitu, patin tumbuh cepat, tingkat kematian turun, dan biaya pakan lebih efisien.