Larva ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) menetas dengan cadangan kuning telur yang habis dalam 24–36 jam. Setelah itu, larva sepenuhnya bergantung pada pakan dari luar, dan pilihan pakan di fase ini menentukan tingkat kelangsungan hidup hingga 70 persen. Kesalahan pemberian pakan pada hari-hari pertama adalah penyebab utama kematian massal di pembenihan patin.
Pakan Alami: Cacing Sutra dan Artemia
Hingga umur 3–5 hari, mulut larva masih sangat kecil sehingga hanya pakan hidup berukuran 100–300 mikron yang bisa ditelan. Cacing sutra (Tubifex sp.) dan nauplii Artemia menjadi pilihan utama karena bergerak dan merangsang respons makan larva.
- Artemia nauplii: ditebar 5–10 ekor per mililiter air, diberikan 4–6 kali sehari.
- Cacing sutra: dicincang halus, diberikan 2–3 kali sehari dengan kepadatan 1–2 gram per 1.000 ekor larva.
- Rotifera dan moina: alternatif murah bila kultur tersedia, ditebar 10–15 individu per mililiter.
Pastikan pakan alami dibilas dengan air bersih sebelum diberikan untuk mengurangi risiko bakteri dan sisa media kultur yang membusuk di kolam.
Transisi ke Pakan Buatan
Mulai umur 5–7 hari, larva dapat dilatih menerima pakan buatan berbentuk tepung halus. Pakan buatan praktis, mengandung protein 40–45 persen, dan lebih murah untuk skala besar dibanding pakan hidup.
Kandungan dan Ukuran Pakan
- Ukuran partikel: 0,2–0,5 mm pada minggu pertama, naik bertahap sesuai bukaan mulut.
- Protein: 36–42 persen untuk larva, lalu turun ke 28–32 persen saat pendederan lanjutan.
- Lemak: 6–10 persen, cukup untuk energi tanpa mengotori air.
Cara Pemberian
Berikan pakan sedikit tapi sering, 5–7 kali sehari. Dosis awal sekitar 10–15 persen bobot tubuh total per hari, lalu turunkan menjadi 5–8 persen seiring pertumbuhan. Tiriskan pakan kering sebelum ditebar agar tidak langsung tenggelam dan terbuang. Untuk mempercepat adaptasi, campur pakan buatan dengan larutan kuning telur rebus atau air rendaman cacing sutra pada dua hari pertama transisi.
Menjaga Kualitas Air Selama Pemberian Pakan
Sisa pakan adalah sumber amonia dan penurunan oksigen. Ganti 30–50 persen air setiap hari, terutama pada kolam dengan kepadatan larva tinggi. Sifon dasar kolam sebelum pemberian pakan pertama pagi hari. Suhu ideal 27–30 derajat Celsius, pH 6,5–7,5, dan oksigen terlarut minimal 4 mg/L. Aerasi ringan wajib agar pakan tersuspensi dan mudah dijangkau larva.
Manajemen Pemberian Pakan Harian
Amati respons larva tiap sesi pakan: bila pakan habis dalam 15–20 menit, jumlahnya cukup; bila tersisa, kurangi dosis berikutnya. Catat konsumsi harian untuk mendeteksi penurunan nafsu makan, yang sering menjadi tanda awal penyakit atau kualitas air memburuk.
Kombinasi pakan alami pada fase awal dan pakan buatan pada fase transisi memberi hasil terbaik untuk larva patin. Kuncinya bukan pada mahalnya pakan, tetapi pada ukuran partikel yang tepat, frekuensi pemberian, dan kebersihan air. Dengan disiplin pada tiga hal itu, kelangsungan hidup larva bisa stabil di atas 60 persen.